"Dalam kesunyian ini, aku mencoba untuk menahan perihnya sakit hati. Kucoba untuk tertawa dan menahan tangis saat melihat gaun pernikahan putih yang pernah kupilih itu dikenakan orang lain. Aku disini bahagia dan merelakanmu menjadi miliknya untuk selamanya."
Keedy, begitulah semua orang memanggilku. Kata orang aku ini termasuk anak yang beruntung. Aku punya segalanya, mobil, rumah mewah hingga barang-barang bermerk yang harganya ratusan juta. Namun sayang, dirumahku yang besar ini aku merasa hidupku hampa dan terasa membosankan. Aku tinggal hanya berdua dengan pengasuh yang merawatku sejak kecil. Orangtuaku tidak pernah dirumah, selalu saja pergi untuk urusan pekerjaan. Sampai pada suatu ketika seseorang mengetuk pintu rumahku.
"Bi, tolong bukain pintunya dong! Ada yang dateng tuh."
Mengetahui tak ada respon dari bibi, aku pun segera turun dan menuju pintu masuk. Saat kubuka, tampak seorang anak laki-laki yang umurnya tidak jauh berbeda denganku tersenyum dengan manisnya, membawakan bungkusan yang sepertinya akan diberikan untukku.
"Permisi, om atau tante nya ada?"
"Waah, mama sama papa udah ga pernah pulang dari 3 bulan yang lalu, ada perlu apa yah?"
Kulihat wajahnya yang semula tersenyum sangat manis berubah keheranan dan menjawab,
"Oh ya udah. Aku cuma mau ngasih ini titipan dari mama papaku. Keluargaku baru aja pindah ke seberang rumah kamu. Nanti kalau aku butuh bantuan aku main kesini yah."
Aku hanya mengangguk dan menerima bingkisan itu lalu dia pergi meninggalkanku tanpa memperkenalkan namanya kepadaku. Kututup pintu rumahku dan berjalan menuju dapur untuk menaruh bingkisan tersebut.
Cuaca mendung dan langit gelap pagi itu membuat hariku menjadi tidak bersemangat. Seperti biasa, bibi membangunkanku tepat pukul 6 pagi, menyiapkanku sarapan, dan membantuku memakai seragam sekolah. Ada satu hal yang berbeda dari hari-hari biasanya. Saat aku membuka pintu rumah, berdiri seorang anak laki-laki yang sepertinya kukenal entah dimana.
"Boleh ga aku berangkat ke sekolah bareng sama kamu?"
Ah! Aku ingat! Dia yang datang ke rumah beberapa hari yang lalu untuk mengantarkan bingkisan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil meninggalkannya menuju mobil.
"Namaku Bradly, nama kamu siapa?"
Keedy, begitulah semua orang memanggilku. Kata orang aku ini termasuk anak yang beruntung. Aku punya segalanya, mobil, rumah mewah hingga barang-barang bermerk yang harganya ratusan juta. Namun sayang, dirumahku yang besar ini aku merasa hidupku hampa dan terasa membosankan. Aku tinggal hanya berdua dengan pengasuh yang merawatku sejak kecil. Orangtuaku tidak pernah dirumah, selalu saja pergi untuk urusan pekerjaan. Sampai pada suatu ketika seseorang mengetuk pintu rumahku.
"Bi, tolong bukain pintunya dong! Ada yang dateng tuh."
Mengetahui tak ada respon dari bibi, aku pun segera turun dan menuju pintu masuk. Saat kubuka, tampak seorang anak laki-laki yang umurnya tidak jauh berbeda denganku tersenyum dengan manisnya, membawakan bungkusan yang sepertinya akan diberikan untukku.
"Permisi, om atau tante nya ada?"
"Waah, mama sama papa udah ga pernah pulang dari 3 bulan yang lalu, ada perlu apa yah?"
Kulihat wajahnya yang semula tersenyum sangat manis berubah keheranan dan menjawab,
"Oh ya udah. Aku cuma mau ngasih ini titipan dari mama papaku. Keluargaku baru aja pindah ke seberang rumah kamu. Nanti kalau aku butuh bantuan aku main kesini yah."
Aku hanya mengangguk dan menerima bingkisan itu lalu dia pergi meninggalkanku tanpa memperkenalkan namanya kepadaku. Kututup pintu rumahku dan berjalan menuju dapur untuk menaruh bingkisan tersebut.
Cuaca mendung dan langit gelap pagi itu membuat hariku menjadi tidak bersemangat. Seperti biasa, bibi membangunkanku tepat pukul 6 pagi, menyiapkanku sarapan, dan membantuku memakai seragam sekolah. Ada satu hal yang berbeda dari hari-hari biasanya. Saat aku membuka pintu rumah, berdiri seorang anak laki-laki yang sepertinya kukenal entah dimana.
"Boleh ga aku berangkat ke sekolah bareng sama kamu?"
Ah! Aku ingat! Dia yang datang ke rumah beberapa hari yang lalu untuk mengantarkan bingkisan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil meninggalkannya menuju mobil.
"Namaku Bradly, nama kamu siapa?"
No comments:
Post a Comment
please leave your comments