WELCOME TO MY PAGE, ENJOY IT!

Monday, August 30, 2010

untukmu selamanya (part 2)

Dia menyodorkan tangannya kepadaku untuk berkenalan.

"Aku Keedy. Kamu ga diantar mama papa kamu ke sekolah?"

Bradly menggeleng dan balas bertanya kepadaku.

"Kamu juga khan?"

Dari sini lah pertemanan antara aku dan Bradly bermula. Bradly sering berkunjung ke rumahku untuk sekedar mendengar curhatku atau bahkan menginap dan bermain sampai larut malam. Kuakui memang semenjak anak laki-laki yang bernama Bradly itu menjadi tetangga seberangku, aku merasa tidak sendirian lagi. Bradly datang dan membawa keceriaan di hari-hariku yang penuh dengan kesepian.

Waktu berjalan begitu cepat. Seperti biasa, Bradly datang kerumahku dan mengajakku untuk berangkat bersama ke sekolah. Lain halnya saat pertama, seragam yang kami kenakan bukan lagi putih merah melainkan putih abu-abu. Bradly mengantarkanku ke mobilnya, membukakan pintu untukku, mempersilahkanku untuk masuk layaknya seorang putri. Ini tahun pertama aku menjadi murid SMA sekaligus menjadi tahun ketiga atau tahun terakhir Bradly bersekolah. Entah kemana Bradly akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Tatapan mataku tidak lepas memandangi Bradly yang sedang serius mengendarai mobil, membayangkan laki-laki ini tidak akan ada lagi di sampingku, menemaniku, menjagaku, dan menghiburku dari kesendirian.

"Keed? Kamu gapapa khan?"

Suara Bradly mengejutkanku dan membuatku mengalihkan pandangan darinya.

"Engga... Gapapa kok. Oh iya Brad, kamu jadinya mau lanjutin kuliah dimana?"

Dengan penuh kecemasan aku pun menunggu jawaban dari Bradly berharap semoga dia tidak menjawab akan melanjutkan kuliah ke luar negeri.

"Mmmmm kemana yah? Kenapa emangnya? Kamu takut aku pergi yah?" jawab Bradly sambil tertawa kecil dan mengelus-elus kepala ku.

Sial. Padahal aku serius bertanya malah dijawab bercanda. Tak berapa lama kemudian, wajah Bradly kembali serius dan entah kenapa suasana di mobil saat itu menjadi tegang.

"Sori Keed, aku baru bisa kasih tahu ke kamu sekarang. Keluargaku akan pindah ke Australia bulan Agustus nanti dan menetap disana."

Aku pun tersentak kaget dan timbul rasa penasaran. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan namun sayangnya pertanyaan yang kuucapkan kali ini menutup semua pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan.

"Tapi kamu ga ikut pindah ke Ausi khan??"

Tepat selesai kuucapkan pertanyaan itu, mobil Bradly berhenti terparkir di halaman sekolah dan Bardly keluar dari mobil tanpa menjawab pertanyaanku sepatah katapun.

Seperti mendapat guncangan yang keras, aku hanya diam seribu bahasa. Tak sepatah katapun terucap selama hari itu. Saat istirahat, aku memutuskan untuk pergi menyendiri, duduk dibawah pohon rindang yang hampir tak pernah dikunjungi murid-murid, sambil memikirkan bahwa bulan Juli tinggal hitungan hari. Ya, 5 hari lagi Bradly, teman, sahabat, sekaligus orang yang kucintai akan pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali.

Selama 4 hari aku menghindar dari Bradly. Sms Bradly yang jumlahnya puluhan itu tak pernah kubaca, telepon darinya pun tak pernah kuangkat. Saat Bradly mencoba mendatangi rumahku, tak kuijinkan dia menemuiku. Dan setelah kusadari bahwa semua itu percuma dan hanya akan memperburuk keadaan, aku harus berani menerim,a kenyataan itu.

Keesokan harinya, saat Bradly dan keluarganya akan berangkat aku memutuskan untuk menemui Bradly dan meminta maaf atas tingkah laku yang kuperbuat beberapa hari terakhir ini. Aku mendatangi rumah Bradly dan tepat saat aku datang Bradly menyambutku dan memelukku sangat erat.

"Maafin aku yah Keed, aku terlalu mendadak kasih tahu ke kamu. Aku juga baru tahu akhir-akhir ini dan aku juga berat untuk menerimanya."

No comments:

Post a Comment

please leave your comments